Tampilkan postingan dengan label Uighur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uighur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Desember 2018

Sanksi Global Untuk Mengakhiri Krisis Hak Asasi Manusia Uighur


Human Rights Day: It’s time for global sanctions on China to end the Uyghur human rights crisis
Oleh Louisa Greve, Direktur Urusan Eksternal, Proyek Hak Asasi Manusia Uyghur


dimuat pada HKFP (Hong Kong Free Press) pada 10 Desember 2018 20:20 diterjemahkan bebas dengan google.

Senin menandai 70 tahun sejak adopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Draft di bangun dari kekejaman Perang Dunia II, 30 artikelnya merupakan janji eksplisit pemerintah untuk mencegah pengulangan kejahatan terhadap kemanusiaan tahun 1930-an dan 40-an.

Pejabat pengadilan Uyghur ditangkap Pihak berwenang di Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur di China barat laut (XUAR)

Pihak Berwenang Xinjiang Menangkap Pejabat Pengadilan Uyghur yang Mencela Kamp Pendidikan Ulang


sumber: RFA update 18 Des 2018 (dicopy 20 Desember 2018)

Polisi Cina meninggalkan Pengadilan Menengah di Urumqi, dalam sebuah file foto.
Polisi Cina meninggalkan Pengadilan Menengah di Urumqi, dalam sebuah file foto


Pihak berwenang di Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur di China barat laut (XUAR) telah menangkap seorang pejabat senior pengadilan Uyghur untuk "bermuka dua" kecenderungan setelah dia menyatakan keprihatinan atas penahanan massal anggota kelompok etnisnya dalam beberapa tahun terakhir, menurut sumber resmi. 

Selasa, 18 Desember 2018

Penahanan Uyghur - Mungkin Lebih Buruk dari Kita Pikir


Dispersi/Penyebaran dan Penahanan Uyghur - Lebih Buruk dari Kami Pikir


Bitter Winter SEBUAH MAJALAH TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA DAN HAK ASASI MANUSIA DI CHINA dengan pemimpin Redaksi Massimo Introvigne pada 18 Des 2018 memberitakan tentang Uyghur.

tahanan di penjara China
Tanpa keterangan dari: https://bitterwinter.org/uyghur-dispersion-and-detention-worse-than-we-thought/

Rincian baru tentang penahanan orang-orang Uyghur di Cina mengekspos negara yang kejam menggunakan metode tidak manusiawi - termasuk penyiksaan - untuk menghapus budaya.

Kemarin, Bitter Winter melaporkan tentang etnis Uyghurs yang ditahan yang dipindahkan ke penjara di provinsi-provinsi di luar Xinjiang (atau Terjemahan). Detail-detail baru yang muncul dari pelaporan kami yang terus menerus mengungkap sejauh mana negara China akan dalam upaya untuk menahan dan "mendidik kembali" populasi, penggunaan penyiksaan untuk membantu dalam pendidikan ulang, dan tekad untuk menjaga kerahasiaan keseluruhan upaya.

Selasa, 11 Desember 2018

Batas Ketakutan Cina

China’s frontier of fear

Illustration of Uyghur prisoners in front of the flag of China.
Ini merupakan saduran/translit bebas (google) dari news diterbitkan www.abc.net.au pada 1 Nov 2018, 2.00 pagi. China' frontier of fear ditulis oleh Mark Doman , Stephen Hutcheon, Dylan Welch dan Kyle Taylor.
(Gambar atau foto silahkan akses ke sumbernya)

Citra satelit yang ditangkap di wilayah terpencil dan sangat bergejolak di Cina barat mengangkat tutup ukuran dan penyebaran kamp interniran yang digunakan untuk mengindoktrinasi sejumlah besar populasi Muslim di kawasan itu.


Senin, 10 Desember 2018

Bukti Baru untuk Kampanye Pendidikan Kembali Politik Tiongkok di Xinjiang


Bukti Baru untuk Kampanye Pendidikan Kembali (re-edukasi) Politik Tiongkok di Xinjiang

Ini merupakan translate bebas (dengan google) sebuah tulisan ringkasan dari peper karya Andrian Zenz dan dimuat The Jamestown Foundation (Glabal Reseatch & Analysis)  pada 15 Mei 2018 (Paper panjangnya: disini). Andrian Zenz adalah dosen dalam metode penelitian sosial di Sekolah Kebudayaan dan Teologi Eropa, Korntal, Jerman. Fokus penelitiannya adalah pada kebijakan etnis dan perekrutan publik di Tibet dan Xinjiang. Dia adalah penulis "Tibetanness under Threat" dan co-editor "Mapping Amdo" seri dari Jaringan Penelitian Amdo Tibet.



Petugas polisi yang berdiri di luar fasilitas di Xinjiang diyakini memiliki kamp pendidikan ulang (Sumber: AP)


Artikel ini dikondensasi dari kertas yang lebih panjang, tersedia untuk diunduh disini . (Catatan Editor: kertas yang lebih panjang diperbarui dengan koreksi September 2018)

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Kamp-Kamp Pendidikan Ulang China

"Apa yang Sebenarnya Terjadi di Kamp-Kamp re-edukasi (Pendidikan Ulang) China"


Ini merupakan translate bebas (dengan google) sebuah opini yang tulis oleh Rian Thum dan dimuat The New York Times pada 15 Mei 2018. RianThum, seorang sejarawan, telah melakukan penelitian di Xinjiang, China, selama hampir dua dekade.



Para pengunjuk rasa menuntut agar China menghormati hak asasi manusia di wilayah Xinjiang dan membebaskan anggota minoritas Uighur yang ditahan di pusat pendidikan ulang di sana, di Brussels pada bulan April. 
Emmanuel Dunand / Agence France-Presse - Getty Images
KreditKredit

Rabu, 01 Agustus 2018

Penelitian-penelitian terkait Uyghur dan Kebijakan Bejing di Xinjiang






Chinese Strategy for De-radicalization

Zhou, Z. (2017). Chinese strategy for de-radicalization. Terrorism and Political Violence, 1-23.
Zunyou Zhou (2017) Chinese Strategy for De-radicalization, Terrorism and Political Violence, DOI: 10.1080/09546553.2017.1330199

China sedang berjuang keras melawan terorisme separatis yang dilakukan oleh Muslim militan Uyghurs di wilayah Xinjiang yang jauh di barat. Deradikalisasi adalah salah satu kebijakan yang pemerintah di Xinjiang baru-baru ini ambil untuk mengatasi meningkatnya kekerasan teroris. Makalah ini terdiri dari lima bagian. Bagian pertama berkaitan dengan latar belakang yang menentang strategi deradikalisasi yang disusun dan dikembangkan. Bagian kedua membahas beberapa pendekatan utama untuk strategi seperti "lima kunci," "empat cabang," "tiga kontingen," "dua tangan," dan "satu aturan." Bagian ketiga menyajikan kustodian, pasca-pemenjaraan, dan sosial program untuk menargetkan tiga kelompok orang: radikal yang dipenjara, radikal yang dibebaskan, serta mereka yang radikal tetapi tidak diadili. Bagian keempat menggambarkan program-program untuk melibatkan masyarakat dalam rangka memenangkan orang-orang yang dapat dipercaya secara politik dari masyarakat sipil untuk dukungan dalam deradikalisasi. Bagian terakhir menarik kesimpulan mengenai karakteristik, efektivitas, kontroversi, dan masa depan kampanye deradikalisasi Tiongkok.

Senin, 15 Januari 2018

Chinese Strategy for De-radicalization, Terrorism and Political Violence di Xinjian


Strategi Cina untuk deradikalisasi

Makalah ini diambil dan diterjemahkan bebas (google) dari makalah yang ditulis Zunyou Zhou, dengan judul "Chinese Strategy for De-radicalization, Terrorism and Political Violence" dan dipublikasikan pada 22 Maret 2018 di Taylor & Francis Online. Zunyou Zhou di Departemen Hukum Kriminal, Institut Max Planck untuk Hukum Pidana Internasional dan Luar Negeri, Freiburg im Breisgau, Jerman. Karya-karya diantaranya "Rehabilitating Terrorists: The Chinese Approach"
(kutip: Zunyou Zhou (2017) Chinese Strategy for De-radicalization, Terrorism and Political Violence, DOI: 10.1080/09546553.2017.1330199), 'After Nice, we all must learn to live with a certain amount of terrorism'.

Pada tulisan tersebut tergambar langkah-langkah de-radikalisasi yang holistik dan sistematis namun tetap masih dipertanyakan klaim keberhasilannya dimana indikator yang digunakan seperti "atmosfir"/ suasana aman/ kejadian teror yang berkurang (apakah bukan faktor adanya keamanan /polisional?), pelaku sudah tidak radikal (apakah bukan karena sedang menata diri/menyembunyikan dirinya yang sesungguhnya?) dll.


Senin, 27 Juli 2009

Cinta dari Uighur

Bacalah, dengarlah, tontonlah. Tapi gunakan nalar dan akal sehat Anda:

Sepuluh Syarat Cinta dari Uighur

Cina
Sepuluh Syarat Cinta dari Uighur
Kerusuhan etnis muslim di Cina menghasilkan tokoh sekelas Dalai Lama.
Tempo mewawancarai sang pembangkang, Rebiya Kadeer, di Washington.

Dua pekan setelah kerusuhan etnis di ibu kota Urumqi, wilayah otonomi Xinjiang, Cina, Direktur Festival Film Internasional Melbourne Richard Moore diprotes atase budaya Cina di Melbourne, Chen Chun Mei. Chen mendesak Moore menarik film berjudul Sepuluh Syarat Cinta dari agenda festival. Tapi Moore menolak desakan itu. ”Saya katakan tidak ada alasan kenapa film itu harus ditarik dari festival ini,” ujar Moore, Kamis pekan lalu.

Maklum, film itu berkisah tentang kehidupan Rebiya Kadeer, pemimpin Kongres Uighur Dunia di pengasingan yang memperjuangkan kemerdekaan Uighur dari Cina. Film yang dibuat oleh sutradara Melbourne, Jeff Daniels, itu akan diputar pada 8 Agustus, yang akan dihadiri oleh Rebiya. Tapi Moore tak bisa menjawab pertanyaan Konsul Chen, kenapa film itu harus diputar dalam festival ini. ”Saya tidak perlu
mencarikan alasan untuk membenarkan kenapa film itu diputar,” kata Moore, yang kemudian menutup pembicaraan lewat telepon itu dengan Chen.

Pemerintah Beijing menuduh Rebiya Kadeer dan organisasinya, Kongres Uighur Dunia, yang bermarkas di Washington, DC, Amerika Serikat, sebagai biang keladi kerusuhan yang menyebabkan 192 orang tewas, 1.721 luka, 331 kedai dan 627 mobil hangus. Menurut pemerintah Cina, sebagian besar korban adalah etnis Han, yang merupakan etnis pendatang di wilayah Xinjiang. Tapi ibu 11 anak ini membantah. ”Saya berjuang
untuk hak asasi dan untuk penentuan nasib sendiri rakyat Uighur,” kata Rebiya kepada Atria Rai, koresponden Tempo di Washington, DC.

Rebiya yang telah berusia 62 tahun kini menjadi bintang dalam isu separatisme Cina, bersanding dengan tokoh perlawanan Tibet Dalai Lama. Bahkan koran pemerintah Cina, Harian Rakyat, menjuluki Rebiya sebagai ”Dalai Lama Uighur”.

Rebiya adalah bekas tukang cuci yang berhasil menjadi salah seorang perempuan pengusaha terkaya di Cina. Ia mengelola 1.000 program keluarga ibu rumah tangga yang membantu perempuan Uighur menjalankan usaha. Penduduk Uighur mengenalnya sebagai miliuner.

Kariernya sebagai pengusaha moncreng sehingga bisa menembus elite politik di Ibu Kota Beijing. Ia ditunjuk sebagai anggota Konferensi Konsultasi Politik Rakyat Cina. Ia bahkan dikirim sebagai salah satu delegasi konferensi PBB tentang perempuan pada 1995.

Tapi nasibnya berubah ketika suaminya yang juga aktivis Sidik Rouzi kabur ke Amerika Serikat pada 1996. Sidik dijebloskan ke penjara karena kampanye melawan perlakuan terhadap etnis Uighur, yang merupakan separuh populasi Provinsi Otonomi Xinjiang. Paspor Rebiya dirampas. Ia dijebloskan ke penjara pada Agustus 1999, ketika akan bertemu dengan delegasi Kongres Amerika untuk mengadukan nasib tahanan
politik di Xinjiang. Dakwaannya: membahayakan keamanan nasional. Ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan rakyat di Urumqi pada 10 Maret 2000.

Ia mendekam dalam penjara selama enam tahun, dan dibebaskan pada 2005 dengan alasan kesehatan. Tapi dalam memoar berjudul Dragon Fighter (Kales Press) yang terbit pada Mei lalu, Rebiya menyebut ia bebas
setelah Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice campur tangan. Ia disekap dalam penjara berukuran 2,5 meter persegi, dan pernah diminta berteriak ”kami tak ingin berpisah dari Cina” sebanyak 50 kali.
Pengalaman dari dalam penjara inilah yang membikin Rebiya kian gigih melawan pemerintah Cina.

Rebiya kemudian pindah ke Virginia, Amerika Serikat. Beberapa keluarganya masih di Xinjiang, bahkan dua anaknya masih meringkuk dalam penjara. Dari Virginia itu ia mengelola Kongres Uighur Dunia dan Asosiasi Uighur Amerika untuk memperjuangkan nasib etnis Uighur di Cina. Untuk itu ia sempat dinominasikan sebagai penerima hadiah Nobel Perdamaian pada 2006.

Setelah kerusuhan di Urumqi tersebut, Rebiya menemui komisi pemerintah untuk kebebasan beragama agar mendorong pemerintah Amerika menjatuhkan sanksi pada Cina. Rebiya menuduh Cina menggunakan kekerasan yang menimbulkan korban untuk menghentikan protes damai etnis Uighur. ”Anda dapat membandingkannya dengan pembantaian di Lapangan Tiananmen,” ujar Rebiya.

Setelah Dalai Lama, kini Rebiya muncul, membuat pemerintah Beijing makin direpotkan dengan isu separatisme.

Raihul Fadjri

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/07/20/ITR/mbm.20090720.ITR130878.id.html
http://media-klaten.blogspot.com/2009/07/sepuluh-syarat-cinta-dari-uighur.html

Jatuhnya Khilafah

Akibat Jatuhnya Khilafah

Kedatangan bulan Rajab memberikan kesempatan untuk merenungkan kewajiban kita mengenai permasalahan Khilafah. Berbagai peristiwa seperti penindasan terhadap muslim Uighur, kecaman Perancis terhadap busana muslim, serbuan Amerika terhadap Afghanistan dan Pakistan, dan pengepungan terhadap Palestina adalah peristiwa-peristiwa yang menunjukkan betapa pentingnya kehadiran Khilafah kembali, suatu Negara Islam Global yang akan menerapkan semua ketentuan Allah dan akan mengembalikan keadilan, kedamaian, dan keamanan bagi semua umat manusia.

Minggu depan pada tanggal 28 Rajab, Umat akan memperingati 88 tahun kejatuhan Khilafah. Sejak hilangnya Khilafah pada tahun 1342H/1924M, umat berada dalam posisi terkungkung oleh dominasi kekuatan kolonial kafir. Dominasi ini hingga sekarang masih berlangsung melalui kaki tangannya dan penguasa bonekanya. Demikian pula, banyak sekali negeri-negeri Eropa yang menunjukkan ketidakpuasannya terhadap muslim di negeri tersebut. Dalam hal ini, kami akan menelaah peristiwa penting akhir-akhir ini dan juga mengingatkan umat bahwa sebenarnya kita semua sangat rentan oleh semua bentuk ancaman. Maka tidak ada lain bahwa jalan keluarnya tidak lain adalah membentuk kembali Khilafah Rashida, sebagaimana Rasulullah dulu membentuk negara Islam pertama dengan menggunakan metoda politik dan intelektual.

Somalia: 3,5 juta muslim di ujung tanduk

Sebagaimana dilaporkan oleh harian Irish Times, “Tidak kurang dari 3,5 juta warga Somalia berada dalam kondisi mengkhawatirkan, dimana tidak ada makanan, pelayanan kesehatan yang memadai, maupun keamanan.” Wartawan tersebut juga melaporkan bahwa dibawah perlindungan Persatuan Pengadilan Islam (Union of Islamic Courts), negeri Somalia justru menikmati masa ‘keadilan hukum, keamanan bagi semua warga Somalia.” Namun ini semua berubah drastis, ketika Amerika mengirim bonekanya Ethiopia untuk menyerbu Somalia dengan satu tujuan, yaitu menggulingkan Persatuan Pengadilan Islam. Sejak saat itu, pertempuran masih terus berkecamuk antara ‘pemerintah federal transisi’ yang dipimpin oleh Sheikh Sharif Ahmed, melawan ‘Al Shabab’ , yang berjuang untuk menerapkan Syariat Islam. Sebagai reaksi terhadap tekanan umat Islam, Amerika mengirim pasokan senjata untuk memperkuat rezim Sharif Ahmad yang terancam untuk digulingkan oleh kelompok yang ingin menerapkan Syariat Islam. Seorang pejabat AS mengatakan kepada harian Washington Post, “ Keputusan telah dibuat di tingkat tertinggi bahwa pemerintah federal somalia tidak boleh jatuh, dan semua upaya akan dilakukan untuk memastikan agar pasukan keamanan pemerintah somalia mampu bertahan melawan para pemberontak.” Pejabat yang tidak disebut namanya juga menambahkan bahwa pengiriman senjata dan amunisi akan sampai di ibukota Somalia, Mogadishu dalam bulan ini.

Serangan terhadap Muslim di Perancis dan Jerman

Di Eropa, umat Islam menyaksikan larangan terhadap pemakaian busana muslimah Burka oleh Perancis dan pembunuhan terhadap muslimah yang sedang hamil di dalam pengadilan di Jerman. Di Perancis, Presiden Sarkozy mengatakan,”Burka bukan simbol agama, ia adalah simbol perbudakan,’ katanya dihadapan anggota dewan perwakilan yang berkumpul untuk mendengarkan pidatonya. Ia lalu juga mengatakan bahwa ‘Burka tidak akan ditolerir penggunaannya di wilayah Republik Perancis.” Pernyataan ini merupakan tanggapan terhadap keprihatinan 65 wakil rakyat Perancis yang meminta komisi dewan perwakilan untuk meneliti apakah wanita muslim yang mengenakan Burka di hadapan khalayak umum mengancam hak asasi wanita dan tradisi sekuler Perancis. Para wakil rakyat ini terdiri dari perwakilan Komunis, dan perwakilan dari partai Sarkozy.
Seruan Sarkozy langsung mendapat dukungan dari perwakilan partainya yang saat ini menguasai pemerintah, tapi ditolak oleh partai Sosialis (sebagai partai oposisi saat ini). Hal ini bukanlah pertama kalinya terjadi di Perancis, mengenai busana muslimah. Pada tahun 2004, Perancis mengeluarkan UU yang melarang wanita mengenakan kerudung di sekolah-sekolah negeri dan kantor pemerintah. Sungguh mengecewakaan bahwa Perancis yang mendengungkan kebebasan beragama dan toleransi, ternyata tidak diterapkan pada umat Islam sendiri yang tinggal di Perancis.

Di Jerman, Marwa al-Sherbini ditikam hingga meninggal di dalam sesi pengadilan yang sedang berlangsung sebanyak 18 kali. Anehnya, polisi jerman juga justru menembak suami Marwa yang sedang berjuang menyelamatkan istrinya ketimbang membekuk pelaku penikaman. Di Jerman, sebagaimana di Perancis dan negara Eropa lainnya, emosi anti Islam memang sedang menghangat dalam 1 dekade terakhir. Maka tidaklah heran ketika pembunuhan seperti itu bisa terjadi, mengingat iklim kebencian yang sedang berkembang di sana.

Cina: Kerusuhan sebagai balasan terhadap terbunuhnya muslim di bulan Juni

Di bulan Juni, massa warga Cina suku Han membunuh dua pekerja muslim (suku Uighur) di kota Shaoguan propinsi Guangdong Selatan. Peristiwa ini menyulut aksi balasan antara muslim Uighur dan warga Cina suku Han, termasuk pasukan keamanan Cina di Urumqi, ibukota Turkistan Timur, yang kini diduduki Cina dan dinamakan Xinjiang.

Pejabat Cina mengatakan 156 warga telah tewas, kebanyakan diantara mereka adalah warga Han yang meninggal di hari Minggu. Kelompok Uighur mengatakan sebaliknya dimana mayoritas yang meninggal adalah warga Uighurs. Pada hari Selasa sekitar 200 wanita Uighur menghadapi pasukan anti huruhara Cina untuk membebaskan lebih dari 1400 warga yang ditahan akibat kekerasan di hari Minggu tersebut. Setelah itu, ratusan warga Cina suku Han merangsek jalan-jalan di Urumqi dan merusak toko-toko yang dimiliki umat Islam.

Sejak April 1996, lebih dari 57 ribu warga muslim Uighurs telah ditahan dan sekitar 1700 diantara mereka dihukum mati. Pemerintah Cina juga meningkatkan razia terhadap aktifitas agama yang ‘tidak mendapat ijin’. Eksekusi mati terhadap 30 warga muslim di bulan Februari 1997 juga sungguh brutal. Pemenjaraan adalah salah satu alat yang digunakan pemerintah Cina untuk menindas muslim dan Islam. Mereka membakar Quran dan melarangnya. Mereka juga melarang aktifitas keagamaan dan melarang bahasa Uighurs (yang menggunakan huruf Arab). Pemerintah Cina juga melakukan kebijakan transmigrasi untuk memperbanyak kehadiran etnik Han di Xinjiang sehingga mengurangi tingkat mayoritas warga Uighurs di sana. Pada tahun 1949, warga Cina suku Han hanya sebesar 2-3% saja, tetapi kini mereka sudah mencapai 50% dan menguasai semua lini perdagangan.

Peningkatan intensitas operasi militer AS di Pakistan dan Afghanistan

Di Afghanistan, pasukan pendudukan AS melancarkan serangan darat yang melibatkan helikopter tempur, tank, dan 4 ribu marinir. Serbuan massal ini dikoordinasikan dengan pesawat tempur tidak berawak yang lepas landas dari Pakistan dan menewaskan 115 warga. Lebih jauh lagi, pemerintah Pakistan mengijinkan serbuan udara yang menewaskan 24 warga di wilayah Swat dan Waziristan. Hal ini belum ditambah peran Pakistan yang membantu usaha Amerika yang menyebabkan terjadinya 2 juta pengungsi. AS dan Pakistan justru bekerjasama untuk mencekik umat, yang berjuang melawan pendudukan Amerika. Apa yang terjadi di Afghanistan adalah bukti bahwa AS tidak mampu memperbudak umat begitu saja, tanpa bantuan dari rezim pemerintahan muslim pengkhianat seperti rezim Zardari yang kini berkuasa di Pakistan. Apa yang AS perbuat di Pakistan memang berbeda dari apa yang ia lakukan di Iraq, dimana AS menggunakan bantuan negara tetangga seperti Iran dan Syria untuk menghadapi perlawanan umat Islam.

Pengepungan Palestina: Kematian yang menyengsarakan

8 bulan telah berlalu sejak pembantaian yang dilakukan Israel terhadap muslim di Gaza. Meskipun bom sudah berhenti berjatuhan –dan media juga sudah tidak meliputnya kembali– pembantaian terhadap Gaza masih berlangsung. Ketimbang menggunakan bom, Israel menggunakan taktik pengepungan yang mematikan. Contohnya, karena muslim tidak dibolehkan memiliki akses terhadap bahan bangunan, maka mereka harus hidup di tenda. Sebagaimana direkam dalam sebuah film dokumenter yang diudarakan oleh harian Inggris The Guardian, seorang ayah harus tetap terjaga sepanjang malam untuk melindungi anak-anaknya dari terkaman binatang liar! Siapapun yang bisa berperan sebagai pengamat yang obyektif akan melihat bahwa tindakan brutal yang dihadapi umat di palestina adalah akibat langsung dari pendudukan Israel, seperti antrian di pos perbatasan hingga berjam-jam, melihat secara pasrah aksi yang dilakukan buldozer Israel dalam menghancurkan rumah warga dan pohon-pohon zaitun yang merupakan sumber penghasilan warga palestina, atau menderita terhadap teror pasukan israel yang merazia rumah-rumah warga di tengah malam. Sebagaimana terlihat dalam acara TV ’60 Minutes’ pasukan Israel bisa seenaknya memasuki rumah warga secara paksa dan menggunakannya sebagai pos komando operasi.

Situasi muslim di Palestina sungguh merupakan refleksi terhadap pentingnya memiliki Khilafah. Muslim dulu pernah mengontrol wilayah tersebut tanpa jeda sejak jaman Khalifah Umar bin Al-Khattab (ra) hingga kedatangan pasukan Salibi.Seruan untuk membebaskan Al Quds pun dikumandangkan oleh Salahudin Ayyubi yang berjuang dengan gagah berani dan dengan seijin Allah, telah berhasil membebaskan Al Quds. Supremasi Islam pun kembali berlanjut hingga datang ke masa pemerintahan Khilafah Ottoman (Uthmani), yang pada akhirnya melemah karena tanggungan hutang yang membesar. Pergerakan Zionis pun mengambil kesempatan dari lemahnya keuangan kekhilafahan dan berusaha untuk membeli Al Quds. Namun, bagaimanakah tanggapan Khalifah Sultan Abdul Hamid terhadap tawaran ini? Apakah dia langsung naik kereta ke London untuk menerima tawaran tersebut dan menikmatinya sebagaimana apa yang dilakukan penguasa muslim saat ini? Tidak, dia sama sekali tidak! Dengan tegas, beliau bahkan tidak mau bertemu dengan pemimpin gerakan Zionis dan menyatakan bahwa tanah Al Quds telah terbasahi oleh darah para syuhada dan mujahideen, maka akan terlalu murah untuk ditukar dengan kekayaan apapun. Sungguh suatu bentuk kepemimpinan yang kini sulit ditemukan dari sekitar 50 an negara muslim sekarang ini.

Mudah-mudahan ALLAH membantu kita meneruskan kembali kehidupan Islam dengan kembalinya Khilafah Rashidah sesuai dengan metoda politik dan intelektual yang dicontohkan rasulullah saaw. Semoga ALLAH mengijinkan generasi berikutnya untuk bisa hidup dibawah naungan Khilafah, terlindungi dari penindasan dan pendudukan.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An-Nur24:55]

(sumber : http://www.khilafah.com/index.php/the-khilafah/issues/7068-repercussions-of-destroying-the-khilafah; Sabtu, 18 Juli 2009)


sumber:

http://hizbut-tahrir.or.id/2009/07/28/akibat-jatuhnya-khilafah/

Kekayaan” Uighur

“Kekayaan” Uighur yang Luar Biasa

E-mail Print PDF

75 persen pajak dari Xinjiang masuk ke pemerintah pusat, padahal wilayah itu merupakan daerah otonomi


Hidayatullah.com--Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang ini memiliki kekayaan alam luar biasa, mulai dari minyak, gas, dan batu bara. Pemerintah Komunis China menjadikan Xinjiang sebagai pusat strategi keamanan energi nasional.

Kabinet China menerbitkan dokumen berjudul ''Proposals of the State Council on Promoting Economic and Social Development in Xinjiang" yang secara jelas mengungkapkan bahwa pada 2020, Xinjiang akan menjadi basis pengolahan dan produksi migas terbesar di China.

Cadangan Minyak dan Gas

- Wilayah Xinjiang menguasai 20 persen cadangan potensial minyak China.

- Cadangan minyak mencapai antara 20-40 miliar ton minyak mentah

- Cadangan gas sedikitnya 12,4 triliun kaki kubik

* China National Petroleum Corp, perusahaan minyak milik negara terbesar, memiliki hak monopoli pengelolaan dan eksplorasi migas di Xinjiang.

- Penemuan minyak yang besar di cekungan Sungai Tarim dan gurun Taklamakan telah menarik perhatian global.

- China membangun pipa sepanjang 2.600 mil yang mengaliri migas ke sebagian besar kota besar seperti Shanghai hingga ke Beijing.

Strategi Energi China


- Mengurangi ketergantungan migas dari luar negeri

- Menjadikan Xinjiang sebagai pusat penyimpanan dan cadangan nasional

- Selain Xinjiang, China memiliki basis produksi minyak besar di:

* Heilongjiang

* Shandong

* Liaoning

Penghasilan

* 75 persen pajak dari Xinjiang masuk ke pemerintah pusat, padahal wilayah itu merupakan daerah otonomi.

* Ekonomi China sangat tergantung migas, dan negeri Tirai Bambu itu menjadi salah satu pemain utama global dalam perang energi dengan AS, Rusia, dan Uni Eropa.

* China rata-rata menghabiskan 65 miliar dolar AS per tahun untuk impor energi, kebanyakan dari Arab Saudi dan Iran.

* Pada 2008, Xinjiang memproduksi 27,4 juta ton minyak mentah atau melebihi produksi ladang-ladang di Shandong.

* Pada 2009, Xinjiang diharapkan mampu memproduksi minyak hingga 28 juta ton.

* Pertumbuhan GDP Xinjiang mencapai 10 persen per tahun

* Tiap tahun, setidaknya 500 ribu turis asing datang

* Lebih dari 13 juta pelancong domestik juga datang

* Memperoleh pendapatan dari pariwisata rata-rata 1,5 miliar dolar AS per tahun

Kondisi Xinjiang

* Meski berada di daerah emas hitam dengan kekayaan melimpah, namun Xinjiang sangat berbeda dengan provinsi-provinsi China lainnya.

- Tak ada industrialisasi di sana

- Penduduk sebagian besar hidup dalam kemiskinan. [Xinhua/Center for Energy and Global Development/China Daily/Reuters/Republika]

ilustrasi :http://china.cn

China Menghapus Identitas Etnis Muslim Uighur

Usaha China Menghapus Identitas Etnis Muslim Uighur

E-mail Print PDF
Etnis Han sengaja dipindahtempatkan oleh pemerintah China ke Xinjiang guna menghapus etnis Uighur hingga ke akarnya

Hidayatullah.com -- Pemerintah China menempatkan jutaan etnis Han China di wilayah mayoritas Muslim, Xinjiang, dengan tujuan utama memaksakan identitas dan kebudayaan Han di sana. Muslim di Xinjiang menjadi seperti orang asing di kampung halaman mereka sendiri.

"Mereka menghancurkan keseimbangan demografis dengan membawa orang-orang China," kata Qutub, seorang pedagang pakaian di pasar tradisional di kota Urumqi kepada Christian Science Monitor dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada Senin, 28 April.

"Mereka ingin agar suku kami musnah. Mereka mengeringkan akar-akar kami."

Pemerintah China telah berkampanye selama puluhan tahun guna menempatkan lebih banyak lagi etnis Han China di Xinjiang, sebuah wilayah yang merupakan kampung halaman dari jutaan etnis minoritas Uighur.

Pada tahun 1949, ketika pemerintah mengambil alih Xinjiang, etnis Han hanya berjumlah 7% dari total populasi di sana. Sekarang mereka sudah berjumlah lebih dari 40%, dan jumlahnya terus bertambah.

Uighur mengeluh karena Han membawa serta kebudayaan dan kebiasaan mereka ke dalam wilayah propinsi yang mayoritasnya Muslim.

Kebanyakan perusahaan dimiliki oleh Han yang sebagian besar mempekerjakan orang-orang dari etnis mereka sendiri. Sementara pekerjaan kasar untuk orang-orang Uighur.

Uighur diperlakukan sebagai warga kelas dua. Dialek Turki mereka dilarang digunakan di sekolah-sekolah, dan perwakilan di departemen-departemen pemerintahan sangat minim.

"Kami merasa seperti orang asing di tanah kami sendiri," keluh Batur, seorang guru Uighur di kota Urumqi. "Kami ini seperti orang-orang Indian di Amerika."

Wilayah barat-laut Xinjiang, rumah bagi sekitar 8 juta etnis minoritas Uighur, telah menjadi wilayah otonomi sejak tahun 1955, namun tetap saja terus-menerus menjadi sasaran kekerasan dengan alasan keamanan.

Beijing melihat Xinjiang sebagai aset yang tak ternilai karena lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan Asia Tengah, dan jumlah kandungan minyak dan gasnya yang besar.

Agama


Satu hal yang menjadi perhatian utama etnis Uighur adalah agama mereka, Islam, yang terus menghadapi tekanan. "Tidak ada kebebasan beragama di sini," kata seorang petani kapas di sebuah desa yang berjarak 50 mil ke selatan dari kota Kucha, kota Uighur yang dihuni oleh 200 ribu orang, kepada Monitor.

Muslim di Xinjiang mengeluhkan penutupan masjid dan sekolah agama dengan alasan tidak memiliki izin sebagaimana yang diharuskan.

Peraturan pemerintah melarang pemuda Muslim di bawah umur 18 tahun shalat di masjid. Peraturan terakhir yang baru saja dikenalkan, melarang pegawai pemerintah lokal pergi ke masjid, melarang guru-guru memelihara jenggot, dan melarang mahasiswa membawa Al-Qur'an ke kampus. Demikian dikatakan oleh seorang aktivis.

Di Kucha, 50 pemuda belakangan ini ditangkap karena belajar di sekolah agama swasta. Pada dinding masjid peninggalan abad 16 di kota itu, ada spanduk merah pemerintah yang bertuliskan "Perang Melawan Aktivitas Keagamaan Ilegal."

Di dinding dalam masjid ada papan pengumuman yang memuat daftar aktivitas "ilegal" yang dimaksud, dengan urutan pertama, yaitu "mengobarkan jihad" atau "pan-Islamisme."

Pemerintah membenarkan tindakan yang menekan Uighur tanpa henti itu dengan alasan anti-separatis dan melawan terorisme. "Jika Anda terlalu relijius, pemerintah menjadi takut," kata si petani kapas.

Nicholas Bequelin, peneliti pada Human Rights Watch membenarkannya. Ia mengatakan bahwa pemerintah menyamakan aktivitas keagamaan --di luar apa yang telah ditetapkan-- dengan terorisme dan separatisme.

Kelompok HAM telah lama menuduh Beijing melakukan penekanan atas agama Muslim di Uighur. Pada saat Olimpiade Beijing, pemerintah menuduh ada rencana teroris yang ingin mengacaukan acara tersebut, yang berasal dari Xinjiang.

Mereka juga mengatakan, sebuah penerbangan dari Urumqi hampir saja meloloskan sebuah usaha pembajakan.

Namun, pakar dan aktivis HAM mengatakan, pernyataan pemerintah itu -- yang tidak bisa diverifikasi secara independen -- kelihatan sangat berlebihan dan hanya dimaksudkan sebagai alasan lain guna kembali menekan Muslim Xinjiang.

Kasar

Kerusuhan sosial di Xinjiang itu, disesalkan Pemerintah Indonesia. Namun, kata juru bicara Departemen Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, Pemerintah Indonesia juga menyatakan bahwa upaya menciptakan ketertiban masyarakat sudah dilakukan oleh Pemerintah China.

''Kita berharap upaya itu memang cepat dilakukan, sehingga tak terjadi masalah yang berkepanjangan di Xinjiang,'' kata Faizasyah.

Pengamat China dari Baptist University, Hong Kong, Jean-Pierre Cabestan, mengatakan, kerusuhan di Xinjiang membuktikan klaim Pemerintah China bahwa kehidupan berjalan aman telah terbantahkan.

''(Kerusuhan itu) menunjukkan bahwa China masih merupakan negara yang kasar, dengan tingkat kerawanan masyarakatnya yang serius,'' kata Cabestan.

Pemerintah Cina ingin membuktikan sisi baiknya dengan mengundang para wartawan yang sengaja diterbangkan ke Urumqi, menyusul terjadinya kerusuhan. Sayangnya, Beijing tak sadar, opini internasional tidak bisa diarahkan berdasarkan informasi dari kantor berita pemerintah.

Mayat-mayat kaum Muslim yang hangus terbakar, dan kesaksian orang-orang yang selamat, pasti akan dapat membangkitkan pengertian, atau mungkin melahirkan simpati, bagi penjelasan Beijing mengenai pembantaian dan banjir darah Ahad lalu. [dija, cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]
Last Updated ( Tuesday, 14 July 2009 05:06 )

Bahasa Uighur

Bahasa Uighur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Uyghur
Dituturkan di: Tiongkok, Kazakstan
Daerah: Wilayah Otonomi Xinjiang Uighur
Jumlah penutur keseluruhan: 8,5-8,8 juta
Peringkat Bahasa: 98
Keluarga bahasa
Klasifikasi:
Altai

Turki
Bagian Timur
Uighur

Status Resmi
Bahasa Resmi di: Xinjiang Uighur, Tiongkok
Regulated by: --
Kode bahasa
ISO 639-1 ug
ISO 639-2(B) uig
SIL UIG

Bahasa Uighur atau Uyghur merupakan anak cabang dari bahasa-bahasa Turki, dengan penutur diperkirakan mencapai 8 - 8,8 juta jiwa. Bahasa Uighur memiliki keserupaan dengan bahasa-bahasa Turki lainnya, jika anda menguasai bahasa Uighur maka anda tidak akan menghadapi banyak kesulitan bila berbicara dengan penutur bahasa Uzbek maupun Kazak, karena kesamaan dalam kosakata maupun strukturnya.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Asal Mula Bahasa Uighur

Bahasa Uighur berakar dari bahasa Turki kuno yang hidup di kawasan Asia Tengah, tepatnya dari kelompok bahasa Chagatay. Para sejarawan Tiongkok berpendapat bahwa apa yang disebut Uighur saat itu menggunakan bahasa yang disebut Huihu dan Tujue yang menjadi bahasa antarbangsa di wilayah tersebut selama berabad-abad. Bahasa Huihu dipakai di kerajaan-kerajaan seperti : Kerajaan Tujue, Kerajaan Kara, Huihu, Dinasti Liao Barat, Ke-Khan-an Jinzhang, Ke-Khan-an Chagatay, dan Kekaisaran Timur. Bahasa inilah yang kemudian berkembang menjadi Bahasa Uighur yang sekarang ini.

Pada abad ke-10, ketika kelompok ini menganut agama Islam, kosakata bahasa Arab dan Persia mulai memasuki bahasa ini dan menjadikan bahasa Uighur sebagai bahasa yang sangat kaya.

[sunting] Daerah Sebar Bahasa

Bahasa Uighur menjadi bahasa resmi di wilayah otonomi Xinjiang Uighur, Tiongkok. Tersebar juga di wilayah-wilayah lain di Tiongkok, selain itu ada sekitar 300.000 penutur di Kazakstan, Kirgiztan dan Mongolia. Ada juga sekitar puluhan keluarga Uighur yang hidup di bagian utara Pakistan dan komunitas berbahasa Uighur lainnya di Uzbekistan, Tajikistan, Afganistan, Turki, Amerika Serikat dan lainnya.

[sunting] Status Bahasa

Bahasa Uighur merupakan bahasa resmi di wilayah otonomi Xinjiang Uighur dan sejajar dengan 56 bahasa lainnya di Tiongkok. Bahasa ini dipakai dalam kehidupan sehari-hari, dan diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh Xinjiang. Namun demikian, Bahasa Tionghoa atau Han tetap wajib dipelajari sebagai bahasa Nasional.

[sunting] Kosakata

Kosakata Bahasa Uighur berakar dari Turki, namun banyak mendapat pengaruh dari Bahasa Persia dan Bahasa Arab. Untuk istilah-istilah internasional, Uighur banyak menyerap kosakata Bahasa Rusia dan Bahasa Tionghoa.

[sunting] Sistem penulisan

Pada masa pra-Islam, bahasa Uighur ditulis dengan huruf Orkhon yang serupa dengan huruf Runik, kemudian semenjak Islam mulai dianut masyarakat Uighur(tepatnya abad ke 10 Masehi), semua penulisan memakai huruf Arab. Pemerintah Komunis Tiongkok pada tahun 1969 berupaya memperkenalkan huruf Latin sebagai sistem penulisan manunggal bagi Bahasa Uighur, namun usaha tersebut tidak berhasil, sehingga pada tahun 1983 huruf Arab yang dimodifikasipun kembali diperkenalkan sebagai satu-satunya sistem penulisan bagi Bahasa Uighur. Perbedaannya adalah dengan ditambahkannya beberapa diakritik khusus yang sesuai dengan pengucapan lidah setempat. Sedangkan masyarakat Uighur di negara-negara bekas Uni Soviet menggunakan huruf Sirilik. Berikut ini contoh perbandingan sistem penulisan antara Arab-Uighur, Latin Turki dan Latin sistem IPA

Perbandingan Abjad Uighur
Arab Latin Turki IPA Arab Latin Turki IPA


ئا A a a a ق K̡ k̡ ? q
ئه Əə ? æ ك K k k k
ب B b b b ڭ ng ng ŋ
پ P p p p گ G g g g
ت T t t t ل L l l l
ج J j c ʤ م M m m m
چ Q q ç ʧ ن N n n n
خ H h ? x ه H̡ h̡ h h
د D d d d ئو O o o o
ر R r r r ئۇ U u u u
ز Z z z z ئۆ Ɵɵ ö œ
ژ Z̡ z̡ j ʒ ئۈ Ü ü ü y
س S s s s ۋ V v v v
ش X x ş ʃ ئې E e e e
غ Ƣƣ ğ ɣ ئى I i i i
ف F f f f ي Y y y j

Huruf Arab Uighur merupakan satu-satunya sistem penulisan huruf Arab yang paling mudah dibaca, bahkan penciptaan sistem baru ini dianggap sebagai salah satu sistem yang paling konsisten. Tidak seperti sistem penulisan pada Bahasa Arab, Bahasa Urdu, Bahasa Persia maupun Bahasa Pashtun dimana sistem bacanya tidak konsisten dengan penulisannya. Jadi, orang tidak akan mengalami kesulitan dalam membaca huruf Arab Uighur ini.

[sunting] Dialek Uighur

Bahasa Uighur baku diambil dari bahasa Uighur yang dipakai oleh warga Urumqi, ibukota Xinjiang Uighur. Secara umum, dialek bahasa Uighur terdiri atas dialek UighurPusat (Central Uyghur), Hotan' dan Lopnur.

[sunting] Kesusasteraan Uighur

Kesusateraan dalam bahasa Uighur juga sangat kaya, tidak heran pada masa lalu kawasan Xinjiang Uighur atau dikenal dengan Turkestan Timur merupakan salah satu pusat kebudayaan Islam di barat Tiongkok dan telah dikenal sejak zaman sebelum Masehi sebagai perlintasan jalur sutera.

[sunting] Contoh Ungkapan Bahasa Uighur

  • Yaxshimusiz?: Apa kabar?
  • Ismingiz nime?: Siapa namamu?
  • Mening ismim....: Nama saya.....
  • Rehmet sizge: Terima kasih

[sunting] Lihat pula

sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Uighur