KOMPAS.com — Kebencian antar ras, Uighur yang minoritas dan Han, yang mayoritas sudah punya sejarah tersendiri.
Kebencian itu pernah memuncak dengan keinginan Uighur memisahkan diri. Hal ini bisa diatasi oleh Mao Zedong dengan mengirimkan tentara tahun 1949 ke Xinjiang. Namun, akar kebencian itu tak pernah sirna.
Kini, booming ekonomi yang diiringi peningkatan kesenjangan makin mencuatkan kebencian kultural di antara dua kelompok etnis itu. Buktinya, sepekan lalu merebak bentrokan etnis di Urumqi yang menewaskan 184 orang. ”Warga etnis Han tidak menyukai kami. Kami selalu mengalami diskriminasi dan dipandang rendah,” kata Abdullah (28) dari Urumqi, ibu kota Provinsi Xinjiang.
”Hampir semua perusahaan China tidak suka menggunakan etnis Uighur dan, jika kami dapat pekerjaan, mereka kurang menghargai kami,” kata Abdullah, buruh di sebuah pabrik baja milik negara.
Dia mengatakan, buruh etnis Han menerima gaji empat kali dari gajinya yang sebesar Rp 1,6 juta per bulan untuk pekerjaan serupa. Kedatangan etnis Han dari sejumlah wilayah di China ke Xinjiang, yang didominasi Muslim Uighur, juga menambah masalah. Pada 1949, porsi etnis Han hanya sekitar enam persen dari total penduduk Xinjiang, sebuah wilayah berpegunungan. Kini persentase Han melejit menjadi 40 persen dari 20,1 juta jiwa penduduk Xinjiang.
”Tak pelak lagi hal ini memperburuk ketegangan etnis, yang makin meningkat akhir-akhir ini,” kata Nicholas Tapp, seorang pakar imigrasi Asia dari Australian National University (ANU), Canberra, Australia.
Kedatangan kelompok etnis Han oleh kelompok etnis Uighur selalu dianggap sebagai niat untuk mencaplok kekayaan minyak, pertambangan, dan pertanian Xinjiang.
Kejengkelan terpendam ini diperburuk lagi dengan perlakuan buruk pada Muslim Uighur. Zabuti, pria Uighur di luar Masjid Zhela, Urumqi, mengatakan, beberapa tempat ibadah ditutup, walau untuk kegiatan rohani, setelah kerusuhan terjadi pekan lalu.
Ada yang berbaur
Namun, ada secercah harapan di wilayah ini. Sejumlah warga Uighur dan Han merasa bisa berbaur. ”Dalam beberapa masa, kelompok minoritas (Uighur) hidup bersama Han,” kata Akbar, etnis Uighur berpendidikan tinggi yang tak paham bahasa China.
Sejumlah warga Han juga merasakan pembauran sejati. ”Saya suka tempat ini, saya juga suka etnis Uighur,” kata Zhang Xuesheng, etnis Han, seorang akademisi yang sudah pensiun, yang sudah tinggal di Urumqi selama 52 tahun.
Zhang malah berbicara di distrik Uighur untuk menyatakan rasa solidaritas saat ketegangan memuncak. ”Saya tak takut datang ke sini. Malah penting untuk menunjukkan bahwa etnis Han tidak menakutkan. Kami ingin berteman,” kata Zhang, yang mengatakan banyak persoalan muncul karena perbedaan bahasa. ”Hal ini menyebabkan sikap salah mengerti.”
”Banyak pemuda Uighur merasa kesempatan mereka akan lebih baik jika bisa berbahasa China... Namun, etnis Han juga merasa prospek kariernya akan lebih baik jika bisa berbahasa Uighur,” kata Zhang.
Kesalahan pemerintah
Namun, keadaan tidak selamanya buruk. Seorang pria Uighur berusia 25 tahun lulusan sebuah universitas di Shanghai berkata lain. ”Di kantor pemerintahan di kota Urumqi, saya adalah satu-satunya etnis Uighur. Namun, saya memiliki teman-teman yang baik,” katanya.
Hal yang membuat dia kecewa adalah tindakan pemerintah yang berlebihan. ”Saya tidak suka cara pemerintah bertindak,” kata pria yang tidak mau disebutkan namanya itu.
Wenran Jiang, seorang pakar China dari University of Alberta, Kanada, mengatakan, walau ada persoalan, ada juga sebuah kesempatan rekonsiliasi di Xinjiang. ”Meski demikian, akar persoalan harus diatasi. Pertama, pemerintah harus mengatasi akar masalah ketimbang menyalahkan orang lain atas kerusuhan yang terjadi. Kedua, pemerintah harus memiliki rancangan politik yang memberi keberpihakan pada etnis Uighur.”
Seorang pemilik toko di Uighur mengatakan, pemerintah bertindak buruk. ”Kadang tindakan mereka bisa kami pendam, tetapi sering juga tindakan pemerintah tak tertahankan,” kata pemilik toko di Urumqi. (AFP/MON)
sumber:
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/07/13/06453996/jeritan.etnis.muslim.uighur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar